Senin, 27 Oktober 2014

PANDANGAN EKSISTENSIALIME, MANUSIA SEBAGAI PUSAT KEHIDUPAN (MENGENAL PEMIKIRAN JEAN PAUL SATRE)

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
            Istilah eksistensialisme bisa memiliki dua arti pada tingkat yang paling dasar, istilah itu berarti sebuah sikap terhadap kehidupan manusia yang menekankan pada pengalaman hidup nyata dan langsung dari tiap-tiap orang. Ini memperhatikan cara-cara orang berinteraksi dengan orang lain dan mencapai kesepehaman tentang sikap masing-masing. Dalam arti yang lebih jauh, istilah tersebut mengacuh kepada sebuah gerakan yang barang kali mencapai puncaknya pada tahun 1938-1968. assal-usul gerakan ini bisa dilacak sampai kepada seorang filosof Denmark, Soren kierkegaard menekankan pentingnya keputusan seseorang dan kesadaran tentang eksistensi manusia. Pemikir agama yang lebih suka menulis dalam bentuk ironi dan cara berpikir paradoks ketimbang menjadi pemikir yang sistematik ini.
B.  Rumusan Masalah
  1.  Apa pengertian dari eksistensialisme?
  2. Lahirnya Eksistensialisme?
  3. Tokoh-Tokoh Eksistensialisme?
  4. Hakekat Eksistensialisme?
  5. Eksitensialisme sebagai Suatu Reaksi ?
C.  Tujuan
  •        untuk mengetahui apa saja yang di jelaskan tentang eksistensialisme.



 BAB 2
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Eksistensialisme
Eksistensialisme dan Fenomenologi merupakan dua gerakan yang sangat erat dan menunjukkan pemberontakan tambahan metode-metode dan pandangan-pandangan filsafat barat. Istilah eksistensialisme tidak menunujukkan suatu sistem filsafat secara khusus.
Mengidentifikasi ciri aliran eksistensialisme sebagai berikut :     
  1. Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
  2. Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
  3. Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa.
  4. Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa.
  5.  menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
  6. Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung.
Salah seorang tokoh eksistensialisme yang popular adalah Jean Paul Sartre (1905-1980),ia membedakan rasio dialektis dengan rasio analitis. Rasio analitis dijalankan dalam ilmu pengetahuan. Rasio dialektis harus digunakan, jika kita berfikir tentang manusia, sejarah, dan kehidupan sosial.
Eksistensialisme dan Fenomenologi merupakan dua gerakan yang sangat erat dan menunjukkan pemberontakan tambahan metode-metode dan pandangan-pandangan filsafat barat. Istilah eksistensialisme tidak menunujukkan suatu sistem filsafat secara khusus.
Meskipun terdapat perbedaan-perbedan yang besar antara para pengikut aliran ini, namun terdapat tema-tema yang sama sebagai ciri khas aliran ini yang tampak pada penganutnya. Mengidentifikasi ciri aliran eksistensialisme sebagai berikut :
  • Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
  • Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
  • Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa.
  • Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa.
  • Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
  • Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung.
Salah seorang tokoh eksistensialisme yang popular adalah Jean Paul Sartre (1905-1980), ia membedakan rasio dialektis dengan rasio analitis. Rasio analitis dijalankan dalam ilmu pengetahuan. Rasio dialektis harus digunakan, jika kita berfikir tentang manusia, sejarah, dan kehidupan sosial.
2.  Lahirnya Eksistensialisme
       Secara umum eksistensialisme merupakan suatu aliran filsafat yang lahir karena ketidakpuasan beberapa filosof terhadap filsafat pada masa Yunani hingga modern, seperti protes terhadap rasionalisme Yunani, khususnya pandangan spekulatif tentang manusia. Intinya adalah penolakan untuk mengikuti suatu aliran, penolakan terhadap kemampuan suatu kumpulan keyakinan, khususnya kemampuan sistem, rasa tidak puas terhadap filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademik dan jauh dari kehidupan, juga pemberontakan terhadap alam yang impersonal yang memandang manusia terbelenggu dengan aktifitas teknologi yang membuat manusia kehilangan hakekat hidupnya sebagai manusia yang bereksistensi.
Eksistensialisme muncul sebagai reaksi terhadap pandangan materialisme. Paham materialisme ini memandang bahwa pada akhirnya manusia itu adalah benda, layaknya batu atau kayu, meski tidak secara eksplisit. Materialisme menganggap hakekat manusia itu hanyalah sesuatu yang material, betul-betul materi. Materialisme menganggap bahwa dari segi keberadaannya manusia sama saja dengan benda-benda lainnya, sementara eksistensialisme yakin bahwa cara berada manusia dengan benda lain itu tidaklah sama. Manusia dan benda lainnya sama-sama berada di dunia, tapi manusia itu mengalami beradanya dia di dunia, dengan kata lain manusia menyadari dirinya ada di dunia. Eksistensialisme menempatkan manusia sebagai subjek, artinya sebagai yang menyadari, sedangkan benda-benda yang disadarinya adalah objek.
Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap idealisme. Idealisme dan materialisme adalah dua pandangan filsafat tentang hakekat yang ekstrem. Materialisme menganggap manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa menjadi subjek, dan hal ini dilebih-lebihkan pula oleh paham idealisme yang menganggap tidak ada benda lain selain pikiran. Idealisme memandang manusia hanya sebagai subjek, dan materialisme memandangnya sebagai objek. Maka muncullah eksistensialisme sebagai jalan keluar dari kedua paham tersebut, yang menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek. Manusia sebagai tema sentral dalam pemikiran.
Munculnya eksistensialisme juga didorong oleh situasi dunia secara umum, terutama dunia Eropa barat. Pada waktu itu kondisi dunia pada umumnya tidak menentu akibat perang. Di mana-mana terjadi krisis nilai. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri. Manusia melupakan individualitasnya. Dari sanalah para filosof berpikir dan mengharap adanya pegangan yang dapat mengeluarkan manusia dari krisis tersebut. Dari proses itulah lahir eksistensialisme.
Kierkegaard seorang pemikir Denmark yang merupakan filsuf Eksistensialisme yang terkenal abad 19 berpendapat bahwa manusia dapat menemukan arti hidup sesungguhnya jika ia menghubungkan dirinya sendiri dengan sesuatu yang tidak terbatas dan merenungkan hidupnya untuk melakukan hal tersebut, walaupun dirinya memiliki keterbatasan untuk melakukan itu. Jean-Paul Sartre filsuf lain dari Eksistensialisme berpendapat eksistensi mendahului esensi, manusia adalah mahkluk eksistensi, memahami dirinya dan bergumul di dalam dunia. Tidak ada natur manusia, karena itu tidak ada Tuhan yang memiliki tentang konsepsi itu. Jean-paul Sartre kemudian menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki suatu apapun, namun dia dapat membuat sesuatu bagi dirinya sendiri.[1]
3.  Tokoh-Tokoh Eksistensialisme
  • Soren Aabye Kiekegaard
Sejak pertengahan abad 18 sebelum Perang Dunia I Soren Kierkegaard, seorang penulis berkebangsaan Denmark, telah mengerjakan tematema pokok eksistensialisme melalui berbagai penemuan dan interpretasi yang mendalam terhadap pemikiran Schelling dan Marx. Namun baru setelah berakhir Perang Dunia II eksistensialisme berkembang pesat terutama dalam sudut pandang filsafat manusia sebagai filsafat yang membicarakan eksistensi manusia sebagai tema utamanya.
Kierkegaard adalah seorang pemikir Denmark yang merupakan filsuf Eksistensialisme yang terkenal abad 19. Kierkegaard berpendapat bahwa manusia dapat menemukan arti hidup sesungguhnya jika ia menghubungkan dirinya sendiri dengan sesuatu yang tidak terbatas dan merenungkan hidupnya untuk melakukan hal tersebut, walaupun dirinya memiliki keterbatasan untuk melakukan itu. Karena pada saat itu terjadi krisis eksistensial, tujuan filsafat Kierkegaard adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimanakah aku menjadi seorang individu?”. Kiergaard menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut, yakni manusia (aku) bisa menjadi individu yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam kehidupan.
Inti pemikiran Kierkegaard adalah eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan.
  •  Friedrich Nietzsche
Nietzsche adalah seorang filsuf Jerman. Tujuan filsafatnya adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul?”. Jawabannya adalah manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani.
Menurutnya manusia yang bereksistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia super (ـbermensch) yang mempunyai mental majikan bukan mental budak. Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan karena dengan menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan dirinya sendiri.
  • Karl Jaspers
Memandang filsafat bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif itu, sehingga manusia sadar akan dirinya sendiri .Ada dua fokus pemikiran Jasper, yaitu eksistensi dan transendensi.
  • Martin Heidegger
Martin Hiedegger merupakan pemikir yang ekstrim, hanya beberapa filsuf saja yang mengerti pemikiran Heidegger. Pemikiran Heidegger selalu tersusun secara sistematis. Tujuan dari pemikiran Heidegger pada dasarnya berusaha untuk menjawab pengertian dari “being”. Heidegger berpendapat bahwa “Das Wesen des Daseins liegt in seiner Existenz”, adanya keberadaan itu terletak pada eksistensinya. Di dalam realitas nyata being (sein) tidak sama sebagai “being” ada pada umumnya, sesuatu yang mempunyai ada dan di dalam ada, dan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan ada sebagai pengada. Heidegger menyebut being sebagai eksistensi manusia, dan sejauh ini analisis tentang “being” biasa disebut sebagai eksistensi manusia (Dasein). Dasein adalah tersusun dari da dan sein. “Da” disana (there), “sein” berarti berada (to be/being). Artinya manusia sadar dengan tempatnya.
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka.
  • Jean Paul Sartre
Jean-Paul Sartre filsuf lain dari eksistensialisme berpendapat eksistensi mendahului esensi, manusia adalah mahkluk eksistensi, memahami dirinya dan bergumul di dalam dunia. Jean-paul Sartre kemudian menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki suatu apapun, namun dia dapat membuat sesuatu bagi dirinya sendiri. Menurut Sartre adanya manusia itu bukanlah “etre” melainkan “a etre”. Artinya manusia itu tidak hanya ada tapi dia selamanya harus membangun adanya, adanya harus dibentuk dengan tidak henti-hentinya.
Satre berkeyakinan bahwa inti setiap relasi antarmanusia adalah konflik, saling menegasikan terus-menerus, karena seorang manusia menjadi subjek sekaligus juga objek bagi yang lain. Oleh karena itu, satu dengan yang lainnya berusaha untuk memasukkan orang lain ke dalam pusat ”dunia”-nya. Mengikuti Nietzsche, Sartre mengutuk setiap bentuk objektivikasi dan impersonalisasi. Tak ada standar baik dan
buruk kecuali kebebasan itu sendiri.
Sartre menekankan pada kebebasan manusia, manusia setelah diciptakan mempunyai kebebasan untuk menetukan dan mengatur dirinya. Konsep manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup dan berada dengan sadar dan bebas bagi diri sendiri.
Sepanjang sejarah eksistensialisme, kebebasan ala Sartre ini boleh dibilang paling ekstrim dan radikal. Dalam sejarah perkembangan filsafat, agaknya tidak ada pendirian tentang kebebasan yang ekstrim dan radikal seperti Sartre.[2]
4.  Hakekat Eksistensialisme
          Eksistensialisme berarti filsafat mengenai aku, dan bagaimana aku hidup. Dengan demikian, eksistensialisme adalah filsafat subyektif mengenai diri. Hal ini terlihat pada ide-ide dari tiga eksistensialis terbesar Eropa: Soren Kierkegaard (1813-1855), Martin Heidegger (1889-1976) dan Jean-Paul Sartre (1905-1980).
Eksistensialisme Kierkegaard tercapai karena menemukan diri di hadapan Tuhan. Bagi Heidegger, filsuf Jerman dengan karya Being & Time yang sangat berpengaruh, diri terkait dengan ‘pengada otentik’, atau kecerdasan identitas.
Sementara bagi Sartre, diri serupa dengan konsep Descartes, tetapi dengan meniadakan Tuhan. Diri bagi Sartre adalah pengakuan atas Tuhan. Karena, dalam menciptakan manusia yang kita inginkan, tak ada satupun dari tindakan-tindakan kita yang tidak sekaligus menciptakan gambaran tentang manusia sebagaimana ia seharusnya.
Dalil diataslah, menurut Sartre lagi, yang menggambarkan diri kita sebagai ‘Tuhan kecil’ yang berada atau menyatu dalam diri kita, sekaligus yang ‘memiliki kebebasan kita’ seperti sebuah kebajikan metafisik (Being & Nothingness, 1943:42).
Dari sudut etimologi eksistensi berasal dari kata “eks” yang berarti diluar dan “sistensi” yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara luas eksistensi dapat diartikan sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari dirinya. Eksistensialisme merupakan suatu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan pada manusia, dimana manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang harus bereksistensi, mengkaji cara manusia berada di dunia dengan kesadaran. Jadi dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkrit.
Eksistensialisme didefinisikan sebagai usaha untuk memfilsafatkan sesuatu dari sudut pandang pelakunya, di bandingkan cara tradisonal, yaitu dari sudut penelitinya. Eksistensialisme memberi perhatian terhadap masalah-masalah kehidupan manusia modern. Eksistensialisme menekankan tema eksistensi pribadi yang dibandingkan dengan eksistensi manusia secara umum, kemustahilan hidup dan pertanyaan untuk arti dan jaminan kebebasan manusia, pilihan dan kehendak, pribadi yang terisolasi, kegelisahan, rasa takut yang berlebihan dan kematian.
Eksistensialisme merupakan suatu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan pada manusia, dimana manusia dipandang sebagai suatu makhluk yang harus bereksistensi, mengkaji cara manusia berada di dunia dengan kesadaran. Jadi dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkrit. Ada beberapa ciri eksistensialisme, yaitu, selalu melihat cara manusia berada, eksistensi diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan menjadi, manusia dipandang sebagai suatu realitas yang terbuka dan belum selesai, dan berdasarkan pengalaman yang konkrit.
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.
Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya “human is condemned to be free”, manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau “dalam istilah orde baru”, apakah eksistensialisme mengenal “kebebasan yang bertanggung jawab”? Bagi eksistensialis,ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain.
Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang lain daripada yang lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orangtua, atau keinginan sendiri.
Waini Rasyidin (2007:24) mengungkapkan bahwa teori eksistensialisme menomorsatukan hak kebebasan individu menjadi diri sendiri yang bersifat terbuka terhadap segala kemungkinan yang selalu baru. Jika dibandingkan dengan penerapannya dalam filsafat pendidikan, eksistensialisme tampak lebih berpengaruh sebagai sistem filsafat, kecuali di Inggris dan dalam bidang pendidikan profesional tertentu di universitas-universitas di Eropa Barat dan Amerika Utara. Inti aliran eksistensialisme adalah filsafat hidup yang lebih menghormati hak hidup manusia sebagai individu. Atas dasar asas individualisme, eksistensialisme berpendapat bahwa tidak ada unsur hakiki di alam semesta yang bersifat universal.
Hakekat kenyataan tergantung pada persepsi individu yang bersangkutan. Parkay (1998) membagi dua aliran pemikiran eksistensialisme, yakni bersifat theistik (bertuhan) dan atheistik. Aliran theistik menunjukkan bahwa manusia memiliki suatu kerinduan akan suatu wujud yang sempurna, yakni Tuhan. Kerinduan ini tidak membuktikan keberadaan Tuhan, manusia dapat bebas memilih untuk tinggal dalam kehidupan mereka seakan-akan ada Tuhan. Sementara aliran atheistik berpendapat bahwa pendirian theistik merendahkan kondisi manusia. Ateistik berpendapat bahwa manusia harus memiliki suatu fantasi agar dapat tinggal dalam kehidupan tanggung jawab moral. Pendirian tersebut membebaskan manusia dari tanggung jawab untuk berhubungan dengan kebebasan pilihan sempurna yang dimiliki.
Menurut eksistensialisme, terdapat dua jenis filsafat tradisional, yakni filsafat spekulatif dan skeptis. Filsafat spekulatif menjelaskan tentang hal-hal yang fundamental tentang pengalaman, dengan berpangkal pada realitas yang lebih dalam yang secara inheren telah ada dalam diri individu. Dengan kata lain pengalaman tidak banyak berpengaruh pada diri individu. Filsafat skeptik berpandangan bahwa semua pengalaman manusia adalah palsu, tidak ada sesuatu pun yang dapat kita kenal dari realitas. Mereka menganggap bahwa konsep metafisika adalah sementara.
Eksistensialisme menolak kedua pandangan tersebut dengan berpendapat bahwa manusia dapat menemukan kebenaran yang fundamental berargumentasi, bahwa yang nyata adalah yang kita alami. Realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri. Untuk menggambarkan realitas, kita harus menggambarkan apa yang ada dalam diri kita, bukan yang ada di luar kondisi manusia.
Paham eksistensialisme terdiri dari berbagai pandangan yang berbedabeda. Meski berbeda pandangan-pandangan tersebut memiliki beberapa persamaan, sehingga pandangan tersebut dapat digolongkan filsafat eksistensialisme. Persamaan-persamaan tersebut di antaranya.
  • Motif pokok eksistensialisme adalah apa yang disebut “eksistensi”, yaitu cara manusia berada.   Hanya manusialah yang bereksistensi. Pusat perhatian ini ada pada manusia. Dengan kata lain bersifat humanis.
  • Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif, berbuat, menjadi, dan merencanakan.
  • Manusia dipandang sebagai makhluk terbuka, realitas yang belum selesai, yang masih dalam proses menjadi. Pada hakikatnya manusia terikat pada dunia sekitarnya, terlebih lagi terhadap sesama manusia.
  • Eksistensialisme memberi tekanan pada pengalaman konkrit, pengalaman yang eksistensial.
Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomologi, suatu pandangan yang menggambarkan penampakkan benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut tersebut menampakkan dirinya terhadap kesadaran manusia. Pengetahuan manusia tergantung pemahamannya tentang realitas, tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas. Pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan atau karis siswa, melainkan untuk dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri.
Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan berupa suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang tersulit. Berbuat akan menghasilkan akibat, dan seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak akan pernah selesai, karena setiap akibat akan melahirkan kebutuhan akan pilihan-pilihan selanjutnya.[3]
 5.      Eksitensialisme sebagai Suatu Reaksi
          Semua pandangan-pandangan tentang manusia yang sudah dibicarakan diatas biasanya mengenai beberapa segi dari kenyataan manusia dan diberlakukan sebagai kenyataan manusia yang sebenarnya. Lalu timbul pertanyaan, apakah tidak semestinya untuk mengadakan perombakan memandang manusia berpangkal pada ketuhanan manusia?! Dengan demikian kita dapat mengetahui siapa dan apakah manusia itu. Usaha dan percoaan tersebut dalam sejarah pemikiran manuusia telah dimulai dari Plato, Sokrates, sampai Thomas van  Aquino, dan dalm bentuk yang  lain oleh Eksistensialisme.
Bagi mereka, manusia itu adalah manusia konkret dan yang hidup itu merupakan pokok pangkal dari eksistensialisme. Akan tetapi jika manusia sebagai eksistensi menjadi pokok pangkal, bolehkah dan dapatkah menghampiri wujud manusia sebagai suatu daya, dalam soal ini sebagai roh, materi dan akal? Eksistensialisme, dalam hal ini, menolak tegas gagasan itu. Bagi eksistensialisme, dengan seluruh dari manusialah dapat dikenal diri manusia. Dengan demikian eksistensialisme merupakan reaksi terhadap idealisme dan materialisme dalam memandang manusia.
Memang pada dasarnya merumuskan eksisensialisme lebih jauh sulit dari pada filsafat eksistensi; yang pertama disebut aliran, sedangkan yang kudua adalah bentuk ragam filsafat. Filsafat eksistensi, sebagaimana maknanya, menetapkan cara wujud manusia itu. Di lain piha, diantara kalangan eksistensialisme sendiri tidak ada kesepakatan apa itu eksistensialisme pendefinisi, bahkan ada tokoh-tokoh tertentu yang enggan di masukkan kedalamnya, seperti aspers dan Hiedegger. Kesukaran lain, pemikir-pemikir tersebut dalam mengungkapkannya sering mengunakan bentuk sastra, drama, serta novel, sehingga dalam perkmbangannya tidak jelas batas-batasnya karena merusak ke dalam berbagai  cabang ilmu. Diantaranya kesusastraan, psikologi dan teknologi.

Akan tetapi meskipun ada kesukaran, adalah perlu untuk menegaskan dalam pembahasan ini. Diantara pendapat-pendapat tersebut ada yang mengatakan bahwa eksistensialisme merupakan usaha untuk menjadikan masalah menjadi konkret karena adanya manusia dan dunia. Sedemikian rupa usaha itu sehingga tidak ada masalah bagi manusia yang tidak dapat dipecahkan; jika tidak dalam rangka pengertian manusia tentang dirinya, maka eksistensialisme berbicara tentang keberadaannya.
Kierkegaard yang di anggap bapak eksistensialisme, dalam memberika reaksi terhadap materialisme dan idealisme khususnya Hegel, memberikan bobot tertentu kepada perkataan “eksistentie”, yang terdapat pada filsafat terbsru. Bukan saja dalam perkataan sehari-hari dia mempengaruhi corak pemikiran eksistensialisme, akan tetapi tema-tema di tunjang dalam perkembangan sejarah eksistensialisme.
Alam memberikan makna “eksistensi” Kierkegaard bertolak dari manusia subyektif, dan dari sinilah ia menerima prinsip sokrates, yaitu “self knowledge is a knowledge of God” (pengetahuan akan diri adalah pengetahuan akan Tuhan), dan mengambil formula yang terkenal, “Truth is subjectivity”.Kierkegaard engatakan, bahwa yang bereksistensi itu hanya manusia, dan sebagai individu adalah unik, tidak dapat di terangkan dari sudut metafisika atau sistem-sistem ilmu. Eksistensi bagi manusia itu tidak sekedar “mengada”. Makanya , bulan, bintang, kursi atau benda lainnya tidak mempergunakan istilah “bereksistensi”.[4]
Eksistensi adalah label khusus yang hanya dikenakan kepada manusia. Dengan keluar dari diri manusia menemukan dirinya. Dia bukan obyek, dan bukan sekedar ada dan mengada, dia selalu keluar, muncul dari tidak sadar menjadi sadar. Dia sebagai subjek yang berada di tengah-tenganh dunia, dan beradanya disana selalu terbuka dan selalu berhubungan, hal ini dimungkinkan sebab dia sudah menunjukkan subyk yang membadan. Dengan kebebasan yang dimilikinya serta kemungkinan untuk memilih senantiasa terbuka bagi manusia akan berbagai ilmu.
Suku kata “ek” menunjukkan semuanya itu, dengan demikian, manusia dalam menjalani eksistesinya tidak statis, melainkan dinamis, selalu ingin mengatasi imanensinya, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri mengenai apa yang ia jalankan. Dalam hal ini sartre mengatakan, “I am condemend to exist  forever beyond my essence, beyond the causes and motives of my act” (selamanya aku dihukum mengada mengatasi essensiku, mengatasi sebab-sebab dan motif-motif tindakanku).
         Teranglah, bahwa “eksistensi” merupakan penertia yang fundamental dalam eksistensialisme dan tidak dapat diredusir lebih dalam lagi. Oleh karena itu ia merupakan “primary truth” yang mnjadi dasar dari jiwa eksistensialisme. Dari kat “eksistensi” dibentuk kata sifat “eksistensial”, yaitu corak dasar sebagai konsekuensi dari eksistensi, dan “eksistensil” artinya pengalaman dalam dari eksistensi, atau apa yang dihayati dalam eksistensi. Berhubung adanya “ kebenaran pertama” tersebut maka eksistensialisme diberi pengertian “ a philosophy contred upon the analysis of existence and stressing the freedom, responsibility, and use the isolation of the individual” (suat filsafat yang memusatkan kepada analisa eksistensi manusia dan menitikberatkan kebebasan, tanggung jawab, dan keterasingan individu).
Eksistensialisme, sebagaimana phenomenologi, menyatakan bahwa filsafat harus didasarkan pada suatu metode deskripsi, yaitu diskripsi mengenai fenomena itu sendiri (yang secara sepontan) dialami manusia. Dengan demikian filsafat harus melepaskan rasionalisme  a priori dan postivisme, jika keduanya menjai pembatas-pembatas subyektif maupun obyektif dari ,manusia,pembahas yang menentukan mengenai pengalaman dalam ilmu pengetahuan positif.
Menurut pegertian ini, eksistensialisme adalah suatu filsafat yang terutama memusatkan pada deskripsi-deskripsi dan kemungkinan-kemunginan konkret dari kehidupan manusia yang spontan, sepanjang deskripsi itu sesuai  dengan syarat-syarat dari metode phenomenologi. Dalam sejarah perkembangannya, ternyata ontoloi yang ditumbuhkan mempunyai versi-versi yang berbeda-beda menurut penciptaannya. Akibatnya tidak ada kesepakatan diantara mereka apa itu Eksistensiaisme.  Dan erkembangannya pun berbeda, namun tetap saj tidak bisa dilepaskandari phenomenalpgi. Akan tetapi, pada umumnya mereka tidak suka dengan tekanan Hussrl pada sikap obyektif yang tidak mengacuhkan pada eksistensi manusia. Justru bagi mereka , eksistensi yang pertamalah yang pertama-tama di analysa.

Dengan demikian eksistensialisme berusaha membuang jauh-jauh segala penyempitan dan pandangan yang fragmentaris ataupun penafsiran berat sebelah terhadap manusia. Dengan usaha itu akan nampak dasar asli dari  dunia eksistensi yang konkret.
Reaksi terus dilontarkan kepada Hegel dan idealismenya serta mark dengan materialismenya, lantaran sikap-sikap mereka yang berat sebelah dalam mengungkap manusia sebagai yang konkret Kierkegaard pun memandang, bahwa manusia telah terperosok jauh kedalam materi dalam prtentangan kelas semata-mata, dan di pihak lain terperosok kedalam kontemplasi yang spekulatif dari sejarah dunia. Sehinga masyarakat melupakan makna terdalam dari eksistensi mereka sebagai individu, dan lebih tragis terjebak juga ke dalam sistem-sistem.
padahal tidak demkian halnya, kata kierkebaard, eksistensi manusa manusia tidak di jalani sekali untuk selamanya. Bereksistensi adalah bertindak dalam hidup yang konkret, bukan sekedar di pikirkan secara obyektif, atau terumus dalam sistem dan konsep, akan tetapi sebagaimana dihayati, tidak ada orang yang dapat mengganti tempat individu untuk bereksistensi. Kebebasan, ketakutan, kecemasan , rasa berdosa dan cinta kasish, keterasingan dari Tuhan, keputusan, semuanya adalah merupakan luapan yang eksistensil. Dan tema-tema inilah yang dikembangkan lebh lanjut dalam versi theistik maupun atheist, tetapi pokok pangkalnya adalah eksistensi manusia yang subyektif.[5]
Hiedegger memandang, bahwa filsafat yang sekian lama menggumuli realitas sudah lupa akan “adanya” ini berarti Thesis Hegel “apa yang nyata dapat dipikirkan, dan apa yang dapat dipikirkan adalah nyata”, tidak diterima oleh Hiedegger. Juga thesis Marx, “yang nyata adalah materi”  juga tidak diterima.hegel dengan idealismenya dan Marx dengan materialismenya lupa membicarakan akan “Adanya”.Hiedegger memulai penyelidikan dengan pertanyaannya yang terkenal:” mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan “? dan eksistensi manusia semakin jelas menjadi cakrawala segala sesuatu yang berada.
Dalam segala yang ada dan nyata, yang paling dekat dan diselidiki oleh filsafat adalah dirinya sendiri. Di dalam diri manusia timbullah pertanyaan tentang”ada” itu, karna ia makhluk yang ada dan mampu bertanya tentang itu, dan sekaligus akan menjawabnya. Dan itulah yang ada di dalam terminologi Hiedegger disebut “dasein”, apa dan bagaimana “dasein” manusia itu? Di dunia ini manusia terlempar, tanpa ujung dan pangkal, dia terlempar dari ketiadaan menuju ketiadaan. Dan ternyata “dasein” itu tidak tetap, temporal, serta menimbulkan ketakutan. Akhirnya “dasein” ialah “sein zum tode” (yang ada kepada yang mati), datang dari tidak ada menuju kepada yang tidak ada.
Seperti halnya Jaspeers, Gabriel Marcel ingin membawa kembali filsafat kepada perenungan tentang “ada”. Eksistensi manusia adalah konkret, adalah berada. Oleh karena itu ia memandang ide atau materi sebagai pikiran skunder, sedangkan “ada” nya eksistensi manusia adalah primer kesemuanya ini berhubungan dengan “ada” sebagaimana mata dengan mata dengan cahaya. Manusia itu ada sebagai eksistensi, akan tetapi eksistensinya tidak tetap. Marcel menekankan bahwa manusia menjumpai “yang ada”, ini berarti dia menjadi “aku” karena menjumpai “ engkau”. Dengan demikian intersubyektivitas diperhatikan betul, karena dia aka makhluk yang bebas, dan bukan barang semata-mata, atau pikiran saja. Dia menjumpai “yang ada” karena cinta.
Dalam mengungkapkan bahwa manusia sebagai eksistensi yaitu: “ada bersama”, berarti inter subyektivitas ditekankan meski dengan menggunakan terminologi yang berbeda-beda. Hiedegger menggunakan “ sein ist-mit-sein”, jasper menjelaskan “komunikasi tidak terbatas pada dunia kontemporer yang dijumpai secara fisik, adalah mungkin mencari dan menemukanwujud diri otentik dalam setiap babakan sejarah”.
Kenyataan sejarah menunjukkan, bahwa filosof-filosof (eksistensialis) di atas tidak sependapat dengan idealismenya Hegel, dan materialismenya Marx. Hal ini disebabkan antara mereka dengan kedua aliran itusangat berbeda dalam titik tolaknya. Yang satu bertolakeksistensi manusia sabagai yang konkret dan subyektif, yang kedua berpedoman bahwa eksistensi manusia bukan merupakan sesuatu yang primer. Oleh karena itu sartre memperingatkan: ketika kaum eksistensialis berbicara tentang eksistensi yang mereka maksudkan adalah eksistensi manusia. Eksistensi manusia adalah nyata bukan sekedar konsep.
Jadi eksistensialisme betul-betul berusaha mengungkap manusia yang utuh sebagai eksistensi yang mendahului esensinya, sebab eksistensi manusia itu bukanlah selesai mantap, akan tetapi sebaliknya, terus mengada. Manusia menyadari keterbatasannya serta temporalitasnya. Lewat itulah dia membuka kemungkinan-kemungkinan sambil memproyeksikan dirinya kedepan, karena dia adalah makhluk temporal. Eksistensialisme memandang makhluk manusia adalah yang paling sadar waktu. Masa lalu, masa depan dan masa kini adalah tunggal dalam penghayatannya. Bahkan yang lebih khas masa kini dengan segala kondisi perangkatnya dikonstitusikan sebagai potensi bagi masa depannya yang diselipi dengan kekuatiran dan kecemasan.
Karena adanya temporalitas itu, peranan kesejarahan sangat penting dalam eksistensialisme, dan ini bertolak belakang dengan pandangan kesejarahan dari Hegel dan Marx. Sebagaimana yang telah disebut diatas, sejarah bagi Hegel pada prinsipnya adalah suatu proses obyektif dari roh absolut, tetapi seluruh jalannya proses berlansung secara dialektis. Dan roh Absolut menjadi sadar dalam arti sepenuhnya. Sejarah dalam pandangan Hegel telah mencapai kesempurnaan. Dan sesudah itu tak akan tak ada lagi hal-hal yang baru kecuali ulangan belaka. Di lain pihak, Marx pada prinsipnya, memandang sejarah dengan segala geraknya, tak lain merupakan dorongan tenaga-tenaga produktivitas manusia berdasarkan keinginan memenuhi hajat kebendaan (ekonominya).[6]









BAB III
KESIMPULAN

Eksistensialisme dan Fenomenologi merupakan dua gerakan yang sangat erat dan menunjukkan pemberontakan tambahan metode-metode dan pandangan-pandangan filsafat barat. Istilah eksistensialisme tidak menunujukkan suatu sistem filsafat secara khusus.
          Semua pandangan-pandangan tentang manusia yang sudah dibicarakan diatas biasanya mengenai beberapa segi dari kenyataan manusia dan diberlakukan sebagai kenyataan manusia yang sebenarnya. Lalu timbul pertanyaan, apakah tidak semestinya untuk mengadakan perombakan memandang manusia berpangkal pada ketuhanan manusia?! Dengan demikian kita dapat mengetahui siapa dan apakah manusia itu. Usaha dan percoaan tersebut dalam sejarah pemikiran manuusia telah dimulai dari Plato, Sokrates, sampai Thomas van  Aquino, dan dalm bentuk yang  lain oleh Eksistensialisme.









DAFTAR PUSTAKA

Rizal Muntansyir dkk, “Filsafat Ilmu”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Sutardjo A. Wiramihardja, “Pengantar Filsafat”, Bandung : PT Refika Aditama, 2006.
Muzari, Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Yogyakarta: pustaka pelajar yogyakarta, 2002
Vincent Martin, Filsafat Eksistensialisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

[1]              Rizal Muntansyir dkk, “Filsafat Ilmu”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2004,hlm 90-91
[2]               Sutardjo A. Wiramihardja, “Pengantar Filsafat”, (Bandung : PT Refika Aditama, 2006) hlm 66-67

[3]    Ibid, hlm 43
[4]    Muzari, Eksistensialisme Jean Paul Sartre, (Yogyakarta: pustaka pelajar yogyakarta, 2002) hlm 26-29
[5]    Ibid , hlm 30-33
[6]    Vincent Martin, Filsafat Eksistensialisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001) hlm 8-13


PANDANGAN DAN HUBUNGAN ANTARA ISLAM WAHYU DAN AKAL

BAB 1
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Berbagai persoalan muncul sebagai topik perdebatan dikalangan ulama’. Melakukan pemikiran secara filosofis merupakan pintu masuk untuk membuka sekat- sekat yang menjadi penghalang bagi munculnya kreatifitas dan kritisitas dalam berpikir. Bahkan, kejayaan islam di masa lalu karena apresiasi yannng diberikan umat islam terhadap penggunaan logika berfikir yang sehat.
Islam dengan Al Qur’an dan Hadits yang menjadi pijakannya, pada dasarnya memberikan motivasi yang kuat kepada umatnya untuk menggunakan akal di dalam mencari kebenaran. Para Ulama’ sesuai dengan karakteristiknya memiliki cara pandang yang berbeda antara satu sama lain, sehingga pemikiran menjadi landasan berpikirnya sendiri- sendiri.
Untuk memahami hal itu, pada bagian ini akan dibahas pandangan para Ulama’ menyangkut sebuah persoalan yang kami beri judul: Pandangan dan Hubungan Antara Islam Wahyu dan Akal.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan akal?
2.      Apa fungsi praktis akal?
3.      Bagaimana klasifikasi akal?
4.      Apa yang di maksud dengan wahyu?
5.      Apa saja Persoalan Tentang Menyikapi Kekuasaan Wahyu dan Akal?
6.      Bagaimana kedudukan wahyu dan akal?
C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui apa saja yang terdapat dalam hakikat  wahyu dan akal.
2.      Untuk mengetahui pemikiran Harun Nasution tentang kedudukan wahyu dan akal.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Akal
Dalam kehidupan sehari- hari kita sangat sering menjumpai kata akal. Akal memiliki banyak arti, antara lain akal berarti sesuatu yang menjadi tetap[1].  Makna lain adalah menahan diri dan berusaha menghindari sesuatu[2]. Serta dapat diartikan mencegah, seperti kata pepatah” saya mencegah unta itu agar tidak lari”[3]. Akal sering diartikan Al lubb[4] seperti yang tertera dalam QS. Al Baqarah ayat 269, yang berarti:
Dia memberikan hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang- orang yang mempunyai akal sehat.
Menurut Al- Huzairi akal berarti daya untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Akal adalah daya membuat seseorang dapat membedakan dirinya dengan benda lain, selain itu, akal juga memiliki daya untuk membedakan antara kebaikan dan kejahatan.




B.     Fungsi Praktis Akal
Fungsi akal ada banyak sekali, salah satunya tertulis dalam QS. Al Fajr: 1-5.
Ada juga yang menyatakan akal itu untuk mengendalikan dan mengikat lisan manusia,mencegah manusia tergelincir pada jalan kebodoha, kekeliruan, dan bahaya[5].  Sedangkan Ibnu Mazhur berpendapat bahwa akal di gunakan untuk mencegah kekeliruan dan untuk membedakan yang baik dan buruk[6].
            Aljahizh juga menukil penafsiran Ibnu Abbas terhadap QS.AL-ISRA’:72 yang berarti siapa yang tidak memiliki akal dia tidak akan mengetahui tata cara mengatur persoalan dunia. Demikian  juga pada persoalan agama juga harus menggunakan akal[7].menurut al asyari(abu musa al asyari) akal tidak mampu untuk mengetahui instrument ketuhanan,melainkan hanya sekedar memahami ajaran wahyu[8]
Berbeda dengan mu’tazillah yang berpendapat bahwa akal semata yang mewajibkan mengetahui Allah SWT[9]. Akal juga imu yang menilai baik dan buruknya tingkah laku[10].
Sedangkan akal dalam ilmu filsafat dikemukakan oleh Aristoteles yang berarti jiwa yang mampu menghasilkan, memecahkan masalah dan menyaring kebenaran[11].





C.    Klasifikasi Akal
Ada dua akal yang dikenal yatu:
Akal Instink / Akal Fitrah
Akal dati Allah
Untuk mengetahui persoalan dunia
Untuk mengetahui persoalan akhirat
Terdapat pada kebanyakan anak adam
Terbentuk dari hidayah iman
Terbentuk dari hidayah alamiah
Perbedaan derajat diantara kaum tauhid terhadap akal ini adalah perbedaan yang tetap luhur.
Ikmu yang terbentuk dari intelegensia ( kecerdasan)

Menjadi hujjah/ argumen bagi pemiliknya

Siapa yang terhalang dari akal ini berarti dia orang bodoh, gila dan sombong.


D. Pengertian Wahyu

            Secara etimologis wahyu berasal dari Bahasa Arab yaitu Al Wahyu  yang berarti suara, api, kecepataan, bisikan, isyarat, tulisan dan kitab.
Secara terminologis, wahyu mengandung pengrtian penyampaian firman Allah kepada orang pilihannya, agar diteruskan kepada manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia dan di akhirat.

E. Persoalan Tentang Menyikapi Kekuasaan Wahyu dan Akal
            Dalam menyikapi adanya kekuasaan akal dan wahyu, para Ulama’ memiliki 4 masalah yang menjadi polemik pembicaraan, yaitu:

1.      Tentang mengetahui Tuhan.
2.      Tentang kewajiban mengetahui Tuhan.
3.      Tentang mrngetahui baik dan buruk.
4.      Tentang kewajiban mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk.
Dalam keempat masalah ini, ada dua pendapat berbeda tentang kekuasaan akal dan wahyu, yaitu:
a.       Menurut Mu’tazillah, keempat masalah tersebut dapat diperoleh melalui akal saja.
b.      Menurut Asyari’ah, akal hanya bisa menjangkau 1 hal saja yakni mengetahui Tuhan, adapun yang 3 lainnya hanya dapat diperoleh dari wahyu.

F. Kedudukan Wahyu dan Akal
Ada beberapa pendapat dari berbagai aliran, yaitu:
1.      Aliran Mu’tazillah: Paham ini mengutamakan akal. Abu Huzail (Tokoh Mu’tazillah) beranggapan bahwa sebelum turunnya wahyu, orang telah berkewajiban mengetahui Allah, jika tidak berterima kasih kepada- Nya maka mendapat hukuman. Baik buruknya suatu hal dapat diketahui melalui perantara akal.
Menurutnya, untuk mengetahui Tuhan, wahyu tidak mempunyai fungsi apa- apa. Tapi, untuk mengetahui cara memuja dan menyembah Tuhan, wahyu sangat di perlukan. Karena akal yang mengetahui cara berterimakasih kepada Tuhan dan wahyu yang menerangkan cara manusia untuk menyembah Tuhan.
2.      Aliran As’yariah: Menurutnya akal tidak bisa mebuat sesuatu menjadi wajib dan mengetahui bahwa suatu pekerjaab menjadi wajib. Akal dapat mengetahui Allah tapi wahyulah yang mewajibkan orang mengetahui Allah dan berterima kasih kepada- Nya. Oleh karena itu, Al Baghdadi (Tokoh Asyariah) berkata sebelum turunnya wahyu, tidak akan ada kewajiban atau larangan apapun bagi manusia.
As Syahrastani menjelaskan bahwa Fungsi Wahyu Allah adalah untuk mengingatkan manusia akan kelalaian mereka.
Al As’yari juga berpendapat bahwa wahyu lah yang menentukan baik buruknya suatu hal, dan akal tidak berperan sama sekali. Contoh: Jika ada orang yang dikatakan bohong itu dosa, itu karena ada wahyu yang menetapkannya bukan akal.
3.      Aliran Al Maturidi
Pendapatnya lebih mendekati paham As’yariah yang kurang memberi fungs terhadap akal. Akal hanya dapat mengetahui Tuhan serta baik dan buruk. Sedangkan wahyu yang sangat dibutuhkan untuk menjelaskan kewajiban terhadap Tuhan dan kewajiban melaksanakan yang baik dan menjauhi yang buruk.
4.  Harun Nasution dan Pandangannya
A. Riwayat Harun Nasution
            Harun Nasution lahir pada hari Selasa, 23 September 1919 di Sumatera. Ayahnya, Abdul Jabar Ahmad, adalah seorang ulama’ yang mengetahui kitab- kitab jawi. Pendidikan formalnya dimulai di skolah Belanda HIS. Setelah tujuh tahun di HIS, ia meneruskan ke MIK(Modern Islamietische Kweekschool) di Bukit Tinggi pada tahun 1934. Pendidikannya lalu diteruskan ke Universitas Al- Azhar Mesir. Sambil kuliah di Al Azhar, ia kuliah pula di Universitas Amerika di Mesir. Pendidikannya lalu dilanjutkan ke Mc. Gill, Kanada, pada Thun 1962[12].  Dan karirnya berlanjut di tanah air sehingga akhirnya ia menjadi tokoh sentral dalam semacam jaringan sentral yang terbentuk di kawasan IAIN Ciputat semenjak paruh kedua dasawarsa 70-an.




B.  Pemikiran Harun Nasution
1. Peranan Akal
            Menurutnya, besar kecilnya akal dalam teologi suatu aliran sangat menentukan dinamis atau tidaknya pemahaman seseorang tentang ajaran islam. Akal melambangkan kekuatan manusia. Karena akallah yang membuat manusia memiliki kesanggupan untuk menaklukkan kekuatan makhluk lainnya. Bertambah tinggi akal manusia, bertambah tinggilah kesanggupannya untuk mengalahkan makhluk lain, bertambah lemah akal manusia maka bertambah rendah pula kesanggupannya menghadapi kekuatan- kekuatan lain tersebut[13].
            Dalam ajaran Islam, akal mempunyai kedudukan tinggi dan banyak dipakai, bukan dalam perkembangan ilmu perkembangan atau ilmu pengetahuan saja, tetapi juga dalam ilmu perkembangan islam itu sendiri. Pemakaian akal diperintahkan dalam Al Qur’an sendiri.
2.      Hubungan Akal dan Wahyu

Salah satu fokus pemikiran Harun Nasution adalah hubungan antara akal dan wahyu. Ia menjelaskan bahwa hubungan wahyu dan akal memang menimbulkan pertanyaan, tetapi keduanya tidak bertentangan. Akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Al Qur’an dan akal tidak pernah membatalkan wahyu, akal tetap tunduk pada wahyu.








BAB III
PENUTUP
a.      Kesimpulan
Dari penjabaran diatas dapat diketahui bahwa akal dan wahyu sangatlah berhubungan. Bahwasanya teks wahyu sudah mengandung segala- galanya dan pasti benar adanya. Akal dipakai untuk memahami teks wahyu dan tidak menentang wahyu. Yang dipertentangkan dalam sejarah pemikiran islam sebenarnya bukan akal dan wahyu, tetapi penafsiran tertentu dari teks wahyu dengan penafsiran lain dari teks wahyu itu juga.
Jadi, yang bertentangan sebenarnya dalam islam adalah pendapat akal Ulama’lain tentang suatu hal.




















DAFTAR PUSTAKA

Haris, Abdul dkk. Ilmu Kalam, Mojokerto: CV. Sinar Mulia, 2012.
Nasution , Harun. Teologi Islam: Aliran- aliran Sejarah Analisa   perbandingan, Jakarta: UI Press, 1983.





[1] Lihat Ibnu Manzhur, lisan al arab, juz 46, h 458; al- jauhari, ash shakkah, juz 1, h 204. Dipublikasikan oleh Dar al kutub al arabi.
[2] Ar raghib Al Ashfahani, al mufradat fii gharib al Aur’an wal atsar, h 346.
[3] Ibnu Al Jauzi menisbatkan pengertian ini dalam bukunya al adzkiya’, h 7 kepada seorang tokoh bahasa yang terkenal bernama Tsa’laba.
[4] Ibnu Manzhur, lisan Al Arab, juz 6 h 729: Ibnu Al Atsir hikayah juz 4, h 47: dan as suyuti. Ad duur an Mantsur juz 4, h 47 48.
[5] Abu usmanal jahizh, ar rasail, h 141
[6] Ibnu Mazhur, lisan al arab, h 167. 170
[7] Al jahizh,ar rasail(risalah al ma’asi wa al ma’ad) juz 1,h 9697 di kaji ulang oleh abdus salam harun
[8] As suyuti,shaun al mantiq.h 178,179.
[9] Al Ghazali, Al Iqtishad Fi Al I’tiqad. H 189 penerbit Al Jundi, Mesir.
[10] Ibnu Taimiyah, Ar Risalah As Sab’iyyah h : 38- 39.
[11] Al Farabi, ‘uyun Al Masail h 74 ( dalam kitab Al Majmu’) lihat juga di Ar Risalah Fi Ma’anil ‘aqlnh 47 ( dalam kitab Al Majmu’).

[12] Zaim Uchrowi, “ Menyeru Pemikiran Rasional Mu’tazillah, dalam Aqib Suminto, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Thun Harun Nasution, Lembaga Studi Agma dan Filsafat, Jakarta, 1989, h 3 dan seterusnya
[13] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran- aliran Sejarah Analisa perbandingan. UI Press, Jakarta, 1983, h 56