BAB 1
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Berbagai persoalan muncul sebagai topik perdebatan dikalangan ulama’.
Melakukan pemikiran secara filosofis merupakan pintu masuk untuk membuka sekat-
sekat yang menjadi penghalang bagi munculnya kreatifitas dan kritisitas dalam
berpikir. Bahkan, kejayaan islam di masa lalu karena apresiasi yannng diberikan
umat islam terhadap penggunaan logika berfikir yang sehat.
Islam dengan Al Qur’an dan Hadits yang menjadi pijakannya, pada dasarnya
memberikan motivasi yang kuat kepada umatnya untuk menggunakan akal di dalam
mencari kebenaran. Para Ulama’ sesuai dengan karakteristiknya memiliki cara
pandang yang berbeda antara satu sama lain, sehingga pemikiran menjadi landasan
berpikirnya sendiri- sendiri.
Untuk memahami hal itu, pada bagian ini akan dibahas pandangan para
Ulama’ menyangkut sebuah persoalan yang kami beri judul: Pandangan dan
Hubungan Antara Islam Wahyu dan Akal.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa yang di
maksud dengan akal?
2. Apa fungsi
praktis akal?
3. Bagaimana
klasifikasi akal?
4. Apa yang di
maksud dengan wahyu?
5. Apa saja Persoalan Tentang Menyikapi Kekuasaan Wahyu dan Akal?
6. Bagaimana kedudukan wahyu dan akal?
C.
Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui apa saja yang terdapat dalam hakikat wahyu dan akal.
2. Untuk mengetahui pemikiran Harun Nasution tentang kedudukan wahyu dan
akal.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Akal
Dalam kehidupan
sehari- hari kita sangat sering menjumpai kata akal. Akal memiliki banyak arti,
antara lain akal berarti sesuatu yang menjadi tetap[1]. Makna lain adalah menahan diri dan berusaha
menghindari sesuatu[2]. Serta
dapat diartikan mencegah, seperti kata pepatah” saya mencegah unta itu agar
tidak lari”[3]. Akal sering diartikan Al lubb[4]
seperti yang tertera dalam QS. Al Baqarah ayat 269, yang berarti:
“Dia
memberikan hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi
hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang
dapat mengambil pelajaran kecuali orang- orang yang mempunyai akal sehat”.
Menurut Al-
Huzairi akal berarti daya untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Akal adalah daya
membuat seseorang dapat membedakan dirinya dengan benda lain, selain itu, akal
juga memiliki daya untuk membedakan antara kebaikan dan kejahatan.
B.
Fungsi Praktis Akal
Fungsi akal
ada banyak sekali, salah satunya tertulis dalam QS. Al Fajr: 1-5.
Ada juga
yang menyatakan akal itu untuk mengendalikan dan mengikat
lisan manusia,mencegah manusia tergelincir pada jalan kebodoha, kekeliruan, dan
bahaya[5]. Sedangkan Ibnu Mazhur berpendapat bahwa akal
di gunakan untuk mencegah kekeliruan dan untuk membedakan yang baik dan buruk[6].
Aljahizh
juga menukil penafsiran Ibnu Abbas terhadap QS.AL-ISRA’:72 yang berarti siapa yang
tidak memiliki akal dia tidak akan mengetahui tata cara mengatur persoalan
dunia. Demikian juga pada persoalan
agama juga harus menggunakan akal[7].menurut
al asyari(abu musa al asyari) akal tidak mampu untuk mengetahui instrument
ketuhanan,melainkan hanya sekedar memahami ajaran wahyu[8]
Berbeda dengan mu’tazillah yang berpendapat bahwa akal semata yang
mewajibkan mengetahui Allah SWT[9].
Akal juga imu yang menilai baik dan buruknya tingkah laku[10].
Sedangkan akal dalam ilmu filsafat dikemukakan oleh Aristoteles
yang berarti jiwa yang mampu menghasilkan, memecahkan masalah dan menyaring
kebenaran[11].
C.
Klasifikasi Akal
Ada dua akal yang dikenal yatu:
|
Akal Instink / Akal Fitrah
|
Akal dati Allah
|
|
Untuk mengetahui persoalan dunia
|
Untuk mengetahui persoalan akhirat
|
|
Terdapat pada kebanyakan anak adam
|
Terbentuk dari hidayah iman
|
|
Terbentuk dari hidayah alamiah
|
Perbedaan derajat diantara kaum tauhid terhadap akal ini adalah perbedaan
yang tetap luhur.
|
|
Ikmu yang terbentuk dari intelegensia ( kecerdasan)
|
|
|
Menjadi hujjah/ argumen bagi pemiliknya
|
|
|
Siapa yang terhalang dari akal ini berarti dia orang bodoh, gila
dan sombong.
|
|
D.
Pengertian Wahyu
Secara etimologis
wahyu berasal dari Bahasa Arab yaitu Al
Wahyu yang berarti suara, api,
kecepataan, bisikan, isyarat, tulisan dan kitab.
Secara terminologis, wahyu
mengandung pengrtian penyampaian firman Allah kepada orang pilihannya, agar
diteruskan kepada manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia dan di akhirat.
E.
Persoalan Tentang Menyikapi Kekuasaan Wahyu dan Akal
Dalam menyikapi
adanya kekuasaan akal dan wahyu, para Ulama’ memiliki 4 masalah yang menjadi
polemik pembicaraan, yaitu:
1.
Tentang mengetahui Tuhan.
2.
Tentang kewajiban mengetahui Tuhan.
3.
Tentang mrngetahui baik dan buruk.
4.
Tentang kewajiban mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang
buruk.
Dalam keempat
masalah ini, ada dua pendapat berbeda tentang kekuasaan akal dan wahyu, yaitu:
a.
Menurut Mu’tazillah, keempat masalah tersebut dapat diperoleh
melalui akal saja.
b.
Menurut Asyari’ah, akal hanya bisa menjangkau 1 hal saja yakni
mengetahui Tuhan, adapun yang 3 lainnya hanya dapat diperoleh dari wahyu.
F.
Kedudukan Wahyu dan Akal
Ada beberapa pendapat dari berbagai
aliran, yaitu:
1.
Aliran Mu’tazillah: Paham ini mengutamakan akal. Abu Huzail (Tokoh
Mu’tazillah) beranggapan bahwa sebelum turunnya wahyu, orang telah berkewajiban
mengetahui Allah, jika tidak berterima kasih kepada- Nya maka mendapat hukuman.
Baik buruknya suatu hal dapat diketahui melalui perantara akal.
Menurutnya,
untuk mengetahui Tuhan, wahyu tidak mempunyai fungsi apa- apa. Tapi, untuk
mengetahui cara memuja dan menyembah Tuhan, wahyu sangat di perlukan. Karena
akal yang mengetahui cara berterimakasih kepada Tuhan dan wahyu yang
menerangkan cara manusia untuk menyembah Tuhan.
2.
Aliran As’yariah: Menurutnya akal tidak bisa mebuat sesuatu menjadi
wajib dan mengetahui bahwa suatu pekerjaab menjadi wajib. Akal dapat mengetahui
Allah tapi wahyulah yang mewajibkan orang mengetahui Allah dan berterima kasih
kepada- Nya. Oleh karena itu, Al Baghdadi (Tokoh Asyariah) berkata sebelum
turunnya wahyu, tidak akan ada kewajiban atau larangan apapun bagi manusia.
As Syahrastani
menjelaskan bahwa Fungsi Wahyu Allah adalah untuk mengingatkan manusia akan
kelalaian mereka.
Al As’yari juga
berpendapat bahwa wahyu lah yang menentukan baik buruknya suatu hal, dan akal
tidak berperan sama sekali. Contoh: Jika ada orang yang dikatakan bohong itu
dosa, itu karena ada wahyu yang menetapkannya bukan akal.
3.
Aliran Al Maturidi
Pendapatnya
lebih mendekati paham As’yariah yang kurang memberi fungs terhadap akal. Akal
hanya dapat mengetahui Tuhan serta baik dan buruk. Sedangkan wahyu yang sangat
dibutuhkan untuk menjelaskan kewajiban terhadap Tuhan dan kewajiban
melaksanakan yang baik dan menjauhi yang buruk.
4. Harun
Nasution dan Pandangannya
A. Riwayat Harun Nasution
Harun Nasution
lahir pada hari Selasa, 23 September 1919 di Sumatera. Ayahnya, Abdul Jabar
Ahmad, adalah seorang ulama’ yang mengetahui kitab- kitab jawi. Pendidikan
formalnya dimulai di skolah Belanda HIS. Setelah tujuh tahun di HIS, ia
meneruskan ke MIK(Modern Islamietische Kweekschool) di Bukit Tinggi pada tahun
1934. Pendidikannya lalu diteruskan ke Universitas Al- Azhar Mesir. Sambil
kuliah di Al Azhar, ia kuliah pula di Universitas Amerika di Mesir.
Pendidikannya lalu dilanjutkan ke Mc. Gill, Kanada, pada Thun 1962[12]. Dan karirnya berlanjut di tanah air sehingga
akhirnya ia menjadi tokoh sentral dalam semacam jaringan sentral yang terbentuk
di kawasan IAIN Ciputat semenjak paruh kedua dasawarsa 70-an.
B.
Pemikiran Harun Nasution
1. Peranan Akal
Menurutnya, besar
kecilnya akal dalam teologi suatu aliran sangat menentukan dinamis atau
tidaknya pemahaman seseorang tentang ajaran islam. Akal melambangkan kekuatan
manusia. Karena akallah yang membuat manusia memiliki kesanggupan untuk
menaklukkan kekuatan makhluk lainnya. Bertambah tinggi akal manusia, bertambah
tinggilah kesanggupannya untuk mengalahkan makhluk lain, bertambah lemah akal
manusia maka bertambah rendah pula kesanggupannya menghadapi kekuatan- kekuatan
lain tersebut[13].
Dalam ajaran
Islam, akal mempunyai kedudukan tinggi dan banyak dipakai, bukan dalam
perkembangan ilmu perkembangan atau ilmu pengetahuan saja, tetapi juga dalam
ilmu perkembangan islam itu sendiri. Pemakaian akal diperintahkan dalam Al
Qur’an sendiri.
2. Hubungan Akal dan Wahyu
Salah satu
fokus pemikiran Harun Nasution adalah hubungan antara akal dan wahyu. Ia
menjelaskan bahwa hubungan wahyu dan akal memang menimbulkan pertanyaan, tetapi
keduanya tidak bertentangan. Akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Al
Qur’an dan akal tidak pernah membatalkan wahyu, akal tetap tunduk pada wahyu.
BAB III
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Dari
penjabaran diatas dapat diketahui bahwa akal dan wahyu sangatlah berhubungan.
Bahwasanya teks wahyu sudah mengandung segala- galanya dan pasti benar adanya.
Akal dipakai untuk memahami teks wahyu dan tidak menentang wahyu. Yang
dipertentangkan dalam sejarah pemikiran islam sebenarnya bukan akal dan wahyu,
tetapi penafsiran tertentu dari teks wahyu dengan penafsiran lain dari teks
wahyu itu juga.
Jadi,
yang bertentangan sebenarnya dalam islam adalah pendapat akal Ulama’lain
tentang suatu hal.
DAFTAR
PUSTAKA
Haris, Abdul dkk. Ilmu Kalam,
Mojokerto: CV. Sinar Mulia, 2012.
Nasution ,
Harun. Teologi Islam: Aliran- aliran
Sejarah Analisa perbandingan, Jakarta: UI Press, 1983.
[1] Lihat Ibnu Manzhur,
lisan al arab, juz 46, h 458; al- jauhari, ash shakkah, juz 1, h 204.
Dipublikasikan oleh Dar al kutub al arabi.
[2] Ar raghib Al Ashfahani,
al mufradat fii gharib al Aur’an wal atsar, h 346.
[3] Ibnu Al Jauzi
menisbatkan pengertian ini dalam bukunya al adzkiya’, h 7 kepada seorang tokoh
bahasa yang terkenal bernama Tsa’laba.
[4] Ibnu
Manzhur, lisan Al Arab, juz 6 h 729: Ibnu Al Atsir hikayah juz 4, h 47: dan as
suyuti. Ad duur an Mantsur juz 4, h 47 48.
[7] Al
jahizh,ar rasail(risalah al ma’asi wa al ma’ad) juz 1,h 9697 di kaji ulang oleh
abdus salam harun
[9] Al Ghazali, Al Iqtishad
Fi Al I’tiqad. H 189 penerbit Al Jundi, Mesir.
[11] Al
Farabi, ‘uyun Al Masail h 74 ( dalam kitab Al Majmu’) lihat juga di Ar Risalah
Fi Ma’anil ‘aqlnh 47 ( dalam kitab Al Majmu’).
[12] Zaim Uchrowi, “ Menyeru Pemikiran Rasional Mu’tazillah, dalam Aqib Suminto,
Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Thun Harun Nasution, Lembaga Studi
Agma dan Filsafat, Jakarta, 1989, h 3 dan seterusnya
[13] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran- aliran Sejarah Analisa
perbandingan. UI Press, Jakarta, 1983, h 56
Tidak ada komentar:
Posting Komentar