BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Istilah eksistensialisme bisa
memiliki dua arti pada tingkat yang paling dasar, istilah itu berarti sebuah
sikap terhadap kehidupan manusia yang menekankan pada pengalaman hidup nyata
dan langsung dari tiap-tiap orang. Ini memperhatikan cara-cara orang
berinteraksi dengan orang lain dan mencapai kesepehaman tentang sikap
masing-masing. Dalam arti yang lebih jauh, istilah tersebut mengacuh kepada sebuah
gerakan yang barang kali mencapai puncaknya pada tahun 1938-1968. assal-usul
gerakan ini bisa dilacak sampai kepada seorang filosof Denmark, Soren
kierkegaard menekankan pentingnya keputusan seseorang dan kesadaran tentang
eksistensi manusia. Pemikir agama yang lebih suka menulis dalam bentuk ironi
dan cara berpikir paradoks ketimbang menjadi pemikir yang sistematik ini.
B. Rumusan Masalah
- Apa
pengertian dari eksistensialisme?
- Lahirnya Eksistensialisme?
- Tokoh-Tokoh Eksistensialisme?
- Hakekat Eksistensialisme?
- Eksitensialisme sebagai Suatu Reaksi ?
C. Tujuan
- untuk
mengetahui apa saja yang di jelaskan tentang eksistensialisme.
BAB 2
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Eksistensialisme
Eksistensialisme dan Fenomenologi merupakan dua gerakan yang
sangat erat dan menunjukkan pemberontakan tambahan metode-metode dan
pandangan-pandangan filsafat barat. Istilah eksistensialisme tidak menunujukkan
suatu sistem filsafat secara khusus.
Mengidentifikasi ciri aliran eksistensialisme sebagai
berikut :
- Eksistensialisme
adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat
modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
- Eksistensialisme
adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep,
filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
- Eksistensialisme
juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa
kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan
massa.
- Eksistensialisme
merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis,
komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di
dalam kolektif atau massa.
- menekankan
situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
- Eksistensialisme
menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran
yang dalam dan langsung.
Salah seorang tokoh eksistensialisme yang popular adalah
Jean Paul Sartre (1905-1980),ia membedakan rasio dialektis dengan rasio
analitis. Rasio analitis dijalankan dalam ilmu pengetahuan. Rasio dialektis
harus digunakan, jika kita berfikir tentang manusia, sejarah, dan kehidupan
sosial.
Eksistensialisme dan Fenomenologi merupakan dua gerakan yang
sangat erat dan menunjukkan pemberontakan tambahan metode-metode dan
pandangan-pandangan filsafat barat. Istilah eksistensialisme tidak menunujukkan
suatu sistem filsafat secara khusus.
Meskipun terdapat perbedaan-perbedan yang besar antara para
pengikut aliran ini, namun terdapat tema-tema yang sama sebagai ciri khas
aliran ini yang tampak pada penganutnya. Mengidentifikasi ciri aliran
eksistensialisme sebagai berikut :
- Eksistensialisme
adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat
modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
- Eksistensialisme
adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat
akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
- Eksistensialisme
juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa
kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan
massa.
- Eksistensialisme
merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis,
komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di
dalam kolektif atau massa.
- Eksistensialisme
menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
- Eksistensialisme
menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran
yang dalam dan langsung.
Salah seorang tokoh eksistensialisme yang popular adalah
Jean Paul Sartre (1905-1980), ia membedakan rasio dialektis dengan rasio
analitis. Rasio analitis dijalankan dalam ilmu pengetahuan. Rasio dialektis
harus digunakan, jika kita berfikir tentang manusia, sejarah, dan kehidupan
sosial.
2. Lahirnya Eksistensialisme
Secara umum eksistensialisme
merupakan suatu aliran filsafat yang lahir karena ketidakpuasan beberapa
filosof terhadap filsafat pada masa Yunani hingga modern, seperti protes
terhadap rasionalisme Yunani, khususnya pandangan spekulatif tentang manusia.
Intinya adalah penolakan untuk mengikuti suatu aliran, penolakan terhadap
kemampuan suatu kumpulan keyakinan, khususnya kemampuan sistem, rasa tidak puas
terhadap filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademik dan jauh dari
kehidupan, juga pemberontakan terhadap alam yang impersonal yang memandang
manusia terbelenggu dengan aktifitas teknologi yang membuat manusia kehilangan
hakekat hidupnya sebagai manusia yang bereksistensi.
Eksistensialisme muncul sebagai reaksi terhadap pandangan
materialisme. Paham materialisme ini memandang bahwa pada akhirnya manusia itu
adalah benda, layaknya batu atau kayu, meski tidak secara eksplisit.
Materialisme menganggap hakekat manusia itu hanyalah sesuatu yang material,
betul-betul materi. Materialisme menganggap bahwa dari segi keberadaannya
manusia sama saja dengan benda-benda lainnya, sementara eksistensialisme yakin
bahwa cara berada manusia dengan benda lain itu tidaklah sama. Manusia dan
benda lainnya sama-sama berada di dunia, tapi manusia itu mengalami beradanya
dia di dunia, dengan kata lain manusia menyadari dirinya ada di dunia.
Eksistensialisme menempatkan manusia sebagai subjek, artinya sebagai yang
menyadari, sedangkan benda-benda yang disadarinya adalah objek.
Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap
idealisme. Idealisme dan materialisme adalah dua pandangan filsafat tentang
hakekat yang ekstrem. Materialisme menganggap manusia hanyalah sesuatu yang
ada, tanpa menjadi subjek, dan hal ini dilebih-lebihkan pula oleh paham
idealisme yang menganggap tidak ada benda lain selain pikiran. Idealisme
memandang manusia hanya sebagai subjek, dan materialisme memandangnya sebagai
objek. Maka muncullah eksistensialisme sebagai jalan keluar dari kedua paham
tersebut, yang menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek. Manusia
sebagai tema sentral dalam pemikiran.
Munculnya eksistensialisme juga didorong oleh situasi dunia
secara umum, terutama dunia Eropa barat. Pada waktu itu kondisi dunia pada
umumnya tidak menentu akibat perang. Di mana-mana terjadi krisis nilai. Manusia
menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri.
Manusia melupakan individualitasnya. Dari sanalah para filosof berpikir dan
mengharap adanya pegangan yang dapat mengeluarkan manusia dari krisis tersebut.
Dari proses itulah lahir eksistensialisme.
Kierkegaard seorang pemikir Denmark yang merupakan filsuf Eksistensialisme
yang terkenal abad 19 berpendapat bahwa manusia dapat menemukan arti hidup
sesungguhnya jika ia menghubungkan dirinya sendiri dengan sesuatu yang tidak
terbatas dan merenungkan hidupnya untuk melakukan hal tersebut, walaupun
dirinya memiliki keterbatasan untuk melakukan itu. Jean-Paul Sartre filsuf lain
dari Eksistensialisme berpendapat eksistensi mendahului esensi, manusia adalah
mahkluk eksistensi, memahami dirinya dan bergumul di dalam dunia. Tidak ada
natur manusia, karena itu tidak ada Tuhan yang memiliki tentang konsepsi itu.
Jean-paul Sartre kemudian menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki suatu
apapun, namun dia dapat membuat sesuatu bagi dirinya sendiri.[1]
3. Tokoh-Tokoh Eksistensialisme
- Soren
Aabye Kiekegaard
Sejak
pertengahan abad 18 sebelum Perang Dunia I Soren Kierkegaard, seorang penulis
berkebangsaan Denmark, telah mengerjakan tematema pokok eksistensialisme
melalui berbagai penemuan dan interpretasi yang mendalam terhadap pemikiran
Schelling dan Marx. Namun baru setelah berakhir Perang Dunia II
eksistensialisme berkembang pesat terutama dalam sudut pandang filsafat manusia
sebagai filsafat yang membicarakan eksistensi manusia sebagai tema utamanya.
Kierkegaard
adalah seorang pemikir Denmark yang merupakan filsuf Eksistensialisme yang
terkenal abad 19. Kierkegaard berpendapat bahwa manusia dapat menemukan arti
hidup sesungguhnya jika ia menghubungkan dirinya sendiri dengan sesuatu yang
tidak terbatas dan merenungkan hidupnya untuk melakukan hal tersebut, walaupun
dirinya memiliki keterbatasan untuk melakukan itu. Karena pada saat itu terjadi
krisis eksistensial, tujuan filsafat Kierkegaard adalah untuk menjawab
pertanyaan “bagaimanakah aku menjadi seorang individu?”. Kiergaard menemukan
jawaban untuk pertanyaan tersebut, yakni manusia (aku) bisa menjadi individu
yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam
kehidupan.
Inti
pemikiran Kierkegaard adalah eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang statis
tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari kemungkinan menuju
suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat ini. Jadi
ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa yang ia cita-citakan
atau apa yang ia anggap kemungkinan.
- Friedrich
Nietzsche
Nietzsche
adalah seorang filsuf Jerman. Tujuan filsafatnya adalah untuk menjawab
pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul?”. Jawabannya adalah
manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri
secara jujur dan berani.
Menurutnya
manusia yang bereksistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan untuk
berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia
super (ـbermensch) yang mempunyai mental
majikan bukan mental budak. Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan
penderitaan karena dengan menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan
menemukan dirinya sendiri.
- Karl
Jaspers
Memandang filsafat bertujuan mengembalikan manusia kepada
dirinya sendiri. Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang menggunakan
semua pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif itu, sehingga
manusia sadar akan dirinya sendiri .Ada dua fokus pemikiran Jasper, yaitu
eksistensi dan transendensi.
- Martin
Heidegger
Martin Hiedegger merupakan pemikir yang ekstrim, hanya
beberapa filsuf saja yang mengerti pemikiran Heidegger. Pemikiran Heidegger
selalu tersusun secara sistematis. Tujuan dari pemikiran Heidegger pada
dasarnya berusaha untuk menjawab pengertian dari “being”. Heidegger berpendapat
bahwa “Das Wesen des Daseins liegt in seiner Existenz”, adanya keberadaan itu
terletak pada eksistensinya. Di dalam realitas nyata being (sein) tidak sama
sebagai “being” ada pada umumnya, sesuatu yang mempunyai ada dan di dalam ada,
dan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan ada sebagai pengada. Heidegger
menyebut being sebagai eksistensi manusia, dan sejauh ini analisis tentang
“being” biasa disebut sebagai eksistensi manusia (Dasein). Dasein adalah
tersusun dari da dan sein. “Da” disana (there), “sein” berarti berada (to
be/being). Artinya manusia sadar dengan tempatnya.
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara
keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu
dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia
baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda
yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan
mereka.
- Jean
Paul Sartre
Jean-Paul Sartre filsuf lain dari eksistensialisme
berpendapat eksistensi mendahului esensi, manusia adalah mahkluk eksistensi,
memahami dirinya dan bergumul di dalam dunia. Jean-paul Sartre kemudian
menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki suatu apapun, namun dia dapat membuat
sesuatu bagi dirinya sendiri. Menurut Sartre adanya manusia itu bukanlah “etre”
melainkan “a etre”. Artinya manusia itu tidak hanya ada tapi dia selamanya
harus membangun adanya, adanya harus dibentuk dengan tidak henti-hentinya.
Satre berkeyakinan bahwa inti setiap relasi antarmanusia
adalah konflik, saling menegasikan terus-menerus, karena seorang manusia
menjadi subjek sekaligus juga objek bagi yang lain. Oleh karena itu, satu
dengan yang lainnya berusaha untuk memasukkan orang lain ke dalam pusat
”dunia”-nya. Mengikuti Nietzsche, Sartre mengutuk setiap bentuk objektivikasi
dan impersonalisasi. Tak ada standar baik dan
buruk kecuali kebebasan itu sendiri.
buruk kecuali kebebasan itu sendiri.
Sartre
menekankan pada kebebasan manusia, manusia setelah diciptakan mempunyai
kebebasan untuk menetukan dan mengatur dirinya. Konsep manusia yang
bereksistensi adalah makhluk yang hidup dan berada dengan sadar dan bebas bagi
diri sendiri.
Sepanjang
sejarah eksistensialisme, kebebasan ala Sartre ini boleh dibilang paling ekstrim
dan radikal. Dalam sejarah perkembangan filsafat, agaknya tidak ada pendirian
tentang kebebasan yang ekstrim dan radikal seperti Sartre.[2]
4. Hakekat Eksistensialisme
Eksistensialisme berarti filsafat
mengenai aku, dan bagaimana aku hidup. Dengan demikian, eksistensialisme adalah
filsafat subyektif mengenai diri. Hal ini terlihat pada ide-ide dari tiga
eksistensialis terbesar Eropa: Soren Kierkegaard (1813-1855), Martin Heidegger
(1889-1976) dan Jean-Paul Sartre (1905-1980).
Eksistensialisme
Kierkegaard tercapai karena menemukan diri di hadapan Tuhan. Bagi Heidegger,
filsuf Jerman dengan karya Being & Time yang sangat berpengaruh, diri
terkait dengan ‘pengada otentik’, atau kecerdasan identitas.
Sementara
bagi Sartre, diri serupa dengan konsep Descartes, tetapi dengan meniadakan
Tuhan. Diri bagi Sartre adalah pengakuan atas Tuhan. Karena, dalam menciptakan
manusia yang kita inginkan, tak ada satupun dari tindakan-tindakan kita yang
tidak sekaligus menciptakan gambaran tentang manusia sebagaimana ia seharusnya.
Dalil
diataslah, menurut Sartre lagi, yang menggambarkan diri kita sebagai ‘Tuhan
kecil’ yang berada atau menyatu dalam diri kita, sekaligus yang ‘memiliki
kebebasan kita’ seperti sebuah kebajikan metafisik (Being & Nothingness,
1943:42).
Dari
sudut etimologi eksistensi berasal dari kata “eks” yang berarti diluar dan
“sistensi” yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara luas eksistensi
dapat diartikan sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari
dirinya. Eksistensialisme merupakan suatu aliran dalam ilmu filsafat yang
menekankan pada manusia, dimana manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang
harus bereksistensi, mengkaji cara manusia berada di dunia dengan kesadaran.
Jadi dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkrit.
Eksistensialisme
didefinisikan sebagai usaha untuk memfilsafatkan sesuatu dari sudut pandang
pelakunya, di bandingkan cara tradisonal, yaitu dari sudut penelitinya.
Eksistensialisme memberi perhatian terhadap masalah-masalah kehidupan manusia
modern. Eksistensialisme menekankan tema eksistensi pribadi yang dibandingkan
dengan eksistensi manusia secara umum, kemustahilan hidup dan pertanyaan untuk
arti dan jaminan kebebasan manusia, pilihan dan kehendak, pribadi yang
terisolasi, kegelisahan, rasa takut yang berlebihan dan kematian.
Eksistensialisme merupakan suatu aliran dalam ilmu filsafat
yang menekankan pada manusia, dimana manusia dipandang sebagai suatu makhluk
yang harus bereksistensi, mengkaji cara manusia berada di dunia dengan
kesadaran. Jadi dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia
konkrit. Ada beberapa ciri eksistensialisme, yaitu, selalu melihat cara manusia
berada, eksistensi diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan
menjadi, manusia dipandang sebagai suatu realitas yang terbuka dan belum
selesai, dan berdasarkan pengalaman yang konkrit.
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya
berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang
bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak
benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak
benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif,
dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya
benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam
filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan
keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan.
Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal
kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan
sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak
mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu
sendiri.
Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling
dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya “human is
condemned to be free”, manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya
itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai
derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas?
atau “dalam istilah orde baru”, apakah eksistensialisme mengenal “kebebasan
yang bertanggung jawab”? Bagi eksistensialis,ketika kebebasan adalah
satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap
individu adalah kebebasan individu lain.
Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi
seorang yang lain daripada yang lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan
sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang
unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat
sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya
dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau
kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur,
pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah,
apakah kita menjadi dokter atas keinginan orangtua, atau keinginan sendiri.
Waini Rasyidin (2007:24) mengungkapkan bahwa teori
eksistensialisme menomorsatukan hak kebebasan individu menjadi diri sendiri
yang bersifat terbuka terhadap segala kemungkinan yang selalu baru. Jika
dibandingkan dengan penerapannya dalam filsafat pendidikan, eksistensialisme
tampak lebih berpengaruh sebagai sistem filsafat, kecuali di Inggris dan dalam
bidang pendidikan profesional tertentu di universitas-universitas di Eropa
Barat dan Amerika Utara. Inti aliran eksistensialisme adalah filsafat hidup
yang lebih menghormati hak hidup manusia sebagai individu. Atas dasar asas
individualisme, eksistensialisme berpendapat bahwa tidak ada unsur hakiki di
alam semesta yang bersifat universal.
Hakekat kenyataan tergantung pada persepsi individu yang
bersangkutan. Parkay (1998) membagi dua aliran pemikiran eksistensialisme,
yakni bersifat theistik (bertuhan) dan atheistik. Aliran theistik menunjukkan
bahwa manusia memiliki suatu kerinduan akan suatu wujud yang sempurna, yakni
Tuhan. Kerinduan ini tidak membuktikan keberadaan Tuhan, manusia dapat bebas
memilih untuk tinggal dalam kehidupan mereka seakan-akan ada Tuhan. Sementara
aliran atheistik berpendapat bahwa pendirian theistik merendahkan kondisi
manusia. Ateistik berpendapat bahwa manusia harus memiliki suatu fantasi agar
dapat tinggal dalam kehidupan tanggung jawab moral. Pendirian tersebut
membebaskan manusia dari tanggung jawab untuk berhubungan dengan kebebasan
pilihan sempurna yang dimiliki.
Menurut eksistensialisme, terdapat dua jenis filsafat tradisional,
yakni filsafat spekulatif dan skeptis. Filsafat spekulatif menjelaskan tentang
hal-hal yang fundamental tentang pengalaman, dengan berpangkal pada realitas
yang lebih dalam yang secara inheren telah ada dalam diri individu. Dengan kata
lain pengalaman tidak banyak berpengaruh pada diri individu. Filsafat skeptik
berpandangan bahwa semua pengalaman manusia adalah palsu, tidak ada sesuatu pun
yang dapat kita kenal dari realitas. Mereka menganggap bahwa konsep metafisika
adalah sementara.
Eksistensialisme
menolak kedua pandangan tersebut dengan berpendapat bahwa manusia dapat
menemukan kebenaran yang fundamental berargumentasi, bahwa yang nyata adalah
yang kita alami. Realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri. Untuk
menggambarkan realitas, kita harus menggambarkan apa yang ada dalam diri kita,
bukan yang ada di luar kondisi manusia.
Paham eksistensialisme terdiri dari berbagai pandangan yang
berbedabeda. Meski berbeda pandangan-pandangan tersebut memiliki beberapa
persamaan, sehingga pandangan tersebut dapat digolongkan filsafat
eksistensialisme. Persamaan-persamaan tersebut di antaranya.
- Motif
pokok eksistensialisme adalah apa yang disebut “eksistensi”, yaitu cara
manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Pusat
perhatian ini ada pada manusia. Dengan kata lain bersifat humanis.
- Bereksistensi
harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya
secara aktif, berbuat, menjadi, dan merencanakan.
- Manusia
dipandang sebagai makhluk terbuka, realitas yang belum selesai, yang masih
dalam proses menjadi. Pada hakikatnya manusia terikat pada dunia
sekitarnya, terlebih lagi terhadap sesama manusia.
- Eksistensialisme
memberi tekanan pada pengalaman konkrit, pengalaman yang eksistensial.
Teori pengetahuan eksistensialisme
banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomologi, suatu pandangan yang menggambarkan
penampakkan benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda
tersebut tersebut menampakkan dirinya terhadap kesadaran manusia. Pengetahuan
manusia tergantung pemahamannya tentang realitas, tergantung pada interpretasi
manusia terhadap realitas. Pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai
alat untuk memperoleh pekerjaan atau karis siswa, melainkan untuk dapat
dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri.
Pemahaman eksistensialisme terhadap
nilai menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu
cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan berupa suatu potensi untuk suatu
tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan
yang terbaik adalah yang tersulit. Berbuat akan menghasilkan akibat, dan
seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan
tidak akan pernah selesai, karena setiap akibat akan melahirkan kebutuhan akan
pilihan-pilihan selanjutnya.[3]
5. Eksitensialisme
sebagai Suatu Reaksi
Semua pandangan-pandangan tentang
manusia yang sudah dibicarakan diatas biasanya mengenai beberapa segi dari
kenyataan manusia dan diberlakukan sebagai kenyataan manusia yang sebenarnya.
Lalu timbul pertanyaan, apakah tidak semestinya untuk mengadakan perombakan
memandang manusia berpangkal pada ketuhanan manusia?! Dengan demikian kita
dapat mengetahui siapa dan apakah manusia itu. Usaha dan percoaan tersebut
dalam sejarah pemikiran manuusia telah dimulai dari Plato, Sokrates, sampai
Thomas van Aquino, dan dalm bentuk yang lain oleh Eksistensialisme.
Bagi mereka, manusia itu adalah manusia konkret dan yang
hidup itu merupakan pokok pangkal dari eksistensialisme. Akan tetapi jika
manusia sebagai eksistensi menjadi pokok pangkal, bolehkah dan dapatkah
menghampiri wujud manusia sebagai suatu daya, dalam soal ini sebagai roh,
materi dan akal? Eksistensialisme, dalam hal ini, menolak tegas gagasan itu.
Bagi eksistensialisme, dengan seluruh dari manusialah dapat dikenal diri
manusia. Dengan demikian eksistensialisme merupakan reaksi terhadap idealisme
dan materialisme dalam memandang manusia.
Memang pada dasarnya merumuskan eksisensialisme lebih jauh
sulit dari pada filsafat eksistensi; yang pertama disebut aliran, sedangkan
yang kudua adalah bentuk ragam filsafat. Filsafat eksistensi, sebagaimana
maknanya, menetapkan cara wujud manusia itu. Di lain piha, diantara kalangan
eksistensialisme sendiri tidak ada kesepakatan apa itu eksistensialisme
pendefinisi, bahkan ada tokoh-tokoh tertentu yang enggan di masukkan
kedalamnya, seperti aspers dan Hiedegger. Kesukaran lain, pemikir-pemikir
tersebut dalam mengungkapkannya sering mengunakan bentuk sastra, drama, serta
novel, sehingga dalam perkmbangannya tidak jelas batas-batasnya karena merusak
ke dalam berbagai cabang ilmu. Diantaranya kesusastraan, psikologi dan
teknologi.
Akan
tetapi meskipun ada kesukaran, adalah perlu untuk menegaskan dalam pembahasan
ini. Diantara pendapat-pendapat tersebut ada yang mengatakan bahwa
eksistensialisme merupakan usaha untuk menjadikan masalah menjadi konkret
karena adanya manusia dan dunia. Sedemikian rupa usaha itu sehingga tidak ada masalah
bagi manusia yang tidak dapat dipecahkan; jika tidak dalam rangka pengertian
manusia tentang dirinya, maka eksistensialisme berbicara tentang keberadaannya.
Kierkegaard yang di anggap bapak eksistensialisme, dalam
memberika reaksi terhadap materialisme dan idealisme khususnya Hegel,
memberikan bobot tertentu kepada perkataan “eksistentie”, yang terdapat pada
filsafat terbsru. Bukan saja dalam perkataan sehari-hari dia mempengaruhi corak
pemikiran eksistensialisme, akan tetapi tema-tema di tunjang dalam perkembangan
sejarah eksistensialisme.
Alam memberikan makna “eksistensi” Kierkegaard bertolak dari
manusia subyektif, dan dari sinilah ia menerima prinsip sokrates, yaitu “self
knowledge is a knowledge of God” (pengetahuan akan diri adalah pengetahuan
akan Tuhan), dan mengambil formula yang terkenal, “Truth is subjectivity”.Kierkegaard
engatakan, bahwa yang bereksistensi itu hanya manusia, dan sebagai individu
adalah unik, tidak dapat di terangkan dari sudut metafisika atau sistem-sistem
ilmu. Eksistensi bagi manusia itu tidak sekedar “mengada”. Makanya , bulan,
bintang, kursi atau benda lainnya tidak mempergunakan istilah “bereksistensi”.[4]
Eksistensi adalah label khusus yang hanya dikenakan kepada
manusia. Dengan keluar dari diri manusia menemukan dirinya. Dia bukan obyek,
dan bukan sekedar ada dan mengada, dia selalu keluar, muncul dari tidak sadar
menjadi sadar. Dia sebagai subjek yang berada di tengah-tenganh dunia, dan
beradanya disana selalu terbuka dan selalu berhubungan, hal ini dimungkinkan
sebab dia sudah menunjukkan subyk yang membadan. Dengan kebebasan yang
dimilikinya serta kemungkinan untuk memilih senantiasa terbuka bagi manusia
akan berbagai ilmu.
Suku kata “ek” menunjukkan semuanya itu, dengan demikian,
manusia dalam menjalani eksistesinya tidak statis, melainkan dinamis, selalu
ingin mengatasi imanensinya, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri
mengenai apa yang ia jalankan. Dalam hal ini sartre mengatakan, “I am
condemend to exist forever beyond my essence, beyond the causes and
motives of my act” (selamanya aku dihukum mengada mengatasi essensiku,
mengatasi sebab-sebab dan motif-motif tindakanku).
Teranglah, bahwa
“eksistensi” merupakan penertia yang fundamental dalam eksistensialisme dan
tidak dapat diredusir lebih dalam lagi. Oleh karena itu ia merupakan “primary
truth” yang mnjadi dasar dari jiwa eksistensialisme. Dari kat “eksistensi”
dibentuk kata sifat “eksistensial”, yaitu corak dasar sebagai konsekuensi dari
eksistensi, dan “eksistensil” artinya pengalaman dalam dari eksistensi, atau
apa yang dihayati dalam eksistensi. Berhubung adanya “ kebenaran pertama”
tersebut maka eksistensialisme diberi pengertian “ a philosophy contred upon
the analysis of existence and stressing the freedom, responsibility, and use
the isolation of the individual” (suat filsafat yang memusatkan kepada
analisa eksistensi manusia dan menitikberatkan kebebasan, tanggung jawab, dan
keterasingan individu).
Eksistensialisme, sebagaimana phenomenologi, menyatakan
bahwa filsafat harus didasarkan pada suatu metode deskripsi, yaitu diskripsi
mengenai fenomena itu sendiri (yang secara sepontan) dialami manusia. Dengan
demikian filsafat harus melepaskan rasionalisme a priori dan postivisme,
jika keduanya menjai pembatas-pembatas subyektif maupun obyektif dari
,manusia,pembahas yang menentukan mengenai pengalaman dalam ilmu pengetahuan
positif.
Menurut pegertian ini, eksistensialisme adalah suatu
filsafat yang terutama memusatkan pada deskripsi-deskripsi dan
kemungkinan-kemunginan konkret dari kehidupan manusia yang spontan, sepanjang
deskripsi itu sesuai dengan syarat-syarat dari metode phenomenologi.
Dalam sejarah perkembangannya, ternyata ontoloi yang ditumbuhkan mempunyai
versi-versi yang berbeda-beda menurut penciptaannya. Akibatnya tidak ada
kesepakatan diantara mereka apa itu Eksistensiaisme. Dan erkembangannya
pun berbeda, namun tetap saj tidak bisa dilepaskandari phenomenalpgi. Akan
tetapi, pada umumnya mereka tidak suka dengan tekanan Hussrl pada sikap
obyektif yang tidak mengacuhkan pada eksistensi manusia. Justru bagi mereka ,
eksistensi yang pertamalah yang pertama-tama di analysa.
Dengan
demikian eksistensialisme berusaha membuang jauh-jauh segala penyempitan dan
pandangan yang fragmentaris ataupun penafsiran berat sebelah terhadap manusia.
Dengan usaha itu akan nampak dasar asli dari dunia eksistensi yang
konkret.
Reaksi terus dilontarkan kepada Hegel dan idealismenya serta
mark dengan materialismenya, lantaran sikap-sikap mereka yang berat sebelah
dalam mengungkap manusia sebagai yang konkret Kierkegaard pun memandang, bahwa
manusia telah terperosok jauh kedalam materi dalam prtentangan kelas
semata-mata, dan di pihak lain terperosok kedalam kontemplasi yang spekulatif
dari sejarah dunia. Sehinga masyarakat melupakan makna terdalam dari eksistensi
mereka sebagai individu, dan lebih tragis terjebak juga ke dalam sistem-sistem.
padahal tidak demkian halnya, kata kierkebaard, eksistensi
manusa manusia tidak di jalani sekali untuk selamanya. Bereksistensi adalah
bertindak dalam hidup yang konkret, bukan sekedar di pikirkan secara obyektif,
atau terumus dalam sistem dan konsep, akan tetapi sebagaimana dihayati, tidak
ada orang yang dapat mengganti tempat individu untuk bereksistensi. Kebebasan,
ketakutan, kecemasan , rasa berdosa dan cinta kasish, keterasingan dari Tuhan,
keputusan, semuanya adalah merupakan luapan yang eksistensil. Dan tema-tema
inilah yang dikembangkan lebh lanjut dalam versi theistik maupun atheist,
tetapi pokok pangkalnya adalah eksistensi manusia yang subyektif.[5]
Hiedegger memandang, bahwa filsafat yang sekian lama
menggumuli realitas sudah lupa akan “adanya” ini berarti Thesis Hegel “apa yang
nyata dapat dipikirkan, dan apa yang dapat dipikirkan adalah nyata”, tidak
diterima oleh Hiedegger. Juga thesis Marx, “yang nyata adalah materi”
juga tidak diterima.hegel dengan idealismenya dan Marx dengan materialismenya
lupa membicarakan akan “Adanya”.Hiedegger memulai penyelidikan dengan
pertanyaannya yang terkenal:” mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan “? dan
eksistensi manusia semakin jelas menjadi cakrawala segala sesuatu yang berada.
Dalam segala yang ada dan nyata, yang paling dekat dan
diselidiki oleh filsafat adalah dirinya sendiri. Di dalam diri manusia
timbullah pertanyaan tentang”ada” itu, karna ia makhluk yang ada dan mampu
bertanya tentang itu, dan sekaligus akan menjawabnya. Dan itulah yang ada di dalam
terminologi Hiedegger disebut “dasein”, apa dan bagaimana “dasein” manusia itu?
Di dunia ini manusia terlempar, tanpa ujung dan pangkal, dia terlempar dari
ketiadaan menuju ketiadaan. Dan ternyata “dasein” itu tidak tetap, temporal,
serta menimbulkan ketakutan. Akhirnya “dasein” ialah “sein zum tode” (yang ada
kepada yang mati), datang dari tidak ada menuju kepada yang tidak ada.
Seperti halnya Jaspeers, Gabriel Marcel ingin membawa
kembali filsafat kepada perenungan tentang “ada”. Eksistensi manusia adalah
konkret, adalah berada. Oleh karena itu ia memandang ide atau materi sebagai
pikiran skunder, sedangkan “ada” nya eksistensi manusia adalah primer
kesemuanya ini berhubungan dengan “ada” sebagaimana mata dengan mata dengan
cahaya. Manusia itu ada sebagai eksistensi, akan tetapi eksistensinya tidak
tetap. Marcel menekankan bahwa manusia menjumpai “yang ada”, ini berarti dia
menjadi “aku” karena menjumpai “ engkau”. Dengan demikian intersubyektivitas
diperhatikan betul, karena dia aka makhluk yang bebas, dan bukan barang
semata-mata, atau pikiran saja. Dia menjumpai “yang ada” karena cinta.
Dalam mengungkapkan bahwa manusia sebagai eksistensi yaitu:
“ada bersama”, berarti inter subyektivitas ditekankan meski dengan menggunakan
terminologi yang berbeda-beda. Hiedegger menggunakan “ sein ist-mit-sein”,
jasper menjelaskan “komunikasi tidak terbatas pada dunia kontemporer yang
dijumpai secara fisik, adalah mungkin mencari dan menemukanwujud diri otentik
dalam setiap babakan sejarah”.
Kenyataan sejarah menunjukkan, bahwa filosof-filosof
(eksistensialis) di atas tidak sependapat dengan idealismenya Hegel, dan
materialismenya Marx. Hal ini disebabkan antara mereka dengan kedua aliran
itusangat berbeda dalam titik tolaknya. Yang satu bertolakeksistensi manusia sabagai
yang konkret dan subyektif, yang kedua berpedoman bahwa eksistensi manusia
bukan merupakan sesuatu yang primer. Oleh karena itu sartre memperingatkan:
ketika kaum eksistensialis berbicara tentang eksistensi yang mereka maksudkan
adalah eksistensi manusia. Eksistensi manusia adalah nyata bukan sekedar
konsep.
Jadi eksistensialisme betul-betul berusaha mengungkap
manusia yang utuh sebagai eksistensi yang mendahului esensinya, sebab
eksistensi manusia itu bukanlah selesai mantap, akan tetapi sebaliknya, terus
mengada. Manusia menyadari keterbatasannya serta temporalitasnya. Lewat itulah
dia membuka kemungkinan-kemungkinan sambil memproyeksikan dirinya kedepan,
karena dia adalah makhluk temporal. Eksistensialisme memandang makhluk manusia
adalah yang paling sadar waktu. Masa lalu, masa depan dan masa kini adalah
tunggal dalam penghayatannya. Bahkan yang lebih khas masa kini dengan segala
kondisi perangkatnya dikonstitusikan sebagai potensi bagi masa depannya yang
diselipi dengan kekuatiran dan kecemasan.
Karena adanya temporalitas itu, peranan kesejarahan sangat
penting dalam eksistensialisme, dan ini bertolak belakang dengan pandangan
kesejarahan dari Hegel dan Marx. Sebagaimana yang telah disebut diatas, sejarah
bagi Hegel pada prinsipnya adalah suatu proses obyektif dari roh absolut,
tetapi seluruh jalannya proses berlansung secara dialektis. Dan roh Absolut
menjadi sadar dalam arti sepenuhnya. Sejarah dalam pandangan Hegel telah
mencapai kesempurnaan. Dan sesudah itu tak akan tak ada lagi hal-hal yang baru kecuali
ulangan belaka. Di lain pihak, Marx pada prinsipnya, memandang sejarah dengan
segala geraknya, tak lain merupakan dorongan tenaga-tenaga produktivitas
manusia berdasarkan keinginan memenuhi hajat kebendaan (ekonominya).[6]
BAB III
KESIMPULAN
Eksistensialisme
dan Fenomenologi merupakan dua gerakan yang sangat erat dan menunjukkan
pemberontakan tambahan metode-metode dan pandangan-pandangan filsafat barat.
Istilah eksistensialisme tidak menunujukkan suatu sistem filsafat secara
khusus.
Semua pandangan-pandangan tentang
manusia yang sudah dibicarakan diatas biasanya mengenai beberapa segi dari
kenyataan manusia dan diberlakukan sebagai kenyataan manusia yang sebenarnya.
Lalu timbul pertanyaan, apakah tidak semestinya untuk mengadakan perombakan
memandang manusia berpangkal pada ketuhanan manusia?! Dengan demikian kita
dapat mengetahui siapa dan apakah manusia itu. Usaha dan percoaan tersebut dalam
sejarah pemikiran manuusia telah dimulai dari Plato, Sokrates, sampai Thomas
van Aquino, dan dalm bentuk yang lain oleh Eksistensialisme.
DAFTAR PUSTAKA
Rizal
Muntansyir dkk, “Filsafat Ilmu”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Sutardjo
A. Wiramihardja, “Pengantar Filsafat”, Bandung : PT Refika Aditama,
2006.
Muzari,
Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Yogyakarta: pustaka pelajar yogyakarta, 2002
Vincent
Martin, Filsafat Eksistensialisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
[1]
Rizal Muntansyir dkk, “Filsafat Ilmu”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar),
2004,hlm 90-91
[2]
Sutardjo A. Wiramihardja, “Pengantar Filsafat”, (Bandung : PT
Refika Aditama, 2006) hlm 66-67
[3] Ibid, hlm 43
[4] Muzari,
Eksistensialisme Jean Paul Sartre, (Yogyakarta: pustaka pelajar yogyakarta,
2002) hlm 26-29
[5] Ibid , hlm 30-33
[6] Vincent Martin, Filsafat
Eksistensialisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001) hlm 8-13